A.
Definisi Remaja
Remaja
berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh
atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas
lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.Remaja
sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan
anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.Seperti yang dikemukakan oleh
Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat
transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak
lagi memiliki status anak.Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa
remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami
perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja
berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13
tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990:
23) remaja adalah: masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam
masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun
perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun
cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Hal
senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene)
diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa
yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia
remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun.
Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun
= masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun
= masa remaja akhir. Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa
remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja
awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja
akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006: 192)
Definisi
yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan
Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari
masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun,
dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik,
maupun psikologis.
B.
Karakteristik Remaja
Karakteristik
pertumbuhan dan perkembangan remaja yang mencakup perubahan transisi biologis,
transisi kognitif, dan transisi sosial akan dipaparkan di bawah ini:
1. Transisi Biologis
Menurut Santrock (2003: 91) perubahan fisik yang terjadi
pada remaja terlihat nampak pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi
dan berat badan serta kematangan sosial.Diantara perubahan fisik itu, yang
terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh
(badan menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya
alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada
laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarlito Wirawan
Sarwono, 2006: 52).
Selanjutnya, Menurut Muss (dalam Sunarto & Agung
Hartono, 2002: 79) menguraikan bahwa perubahan fisik yang terjadi pada anak
perempuan yaitu; perertumbuhan tulang-tulang, badan menjadi tinggi,
anggota-anggota badan menjadi panjang, tumbuh payudara.Tumbuh bulu yang halus
berwarna gelap di kemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum
setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi kriting, menstruasi atau haid, tumbuh bulu-bulu
ketiak.
Sedangkan pada anak laki-laki peubahan yang terjadi
antara lain; pertumbuhan tulang-tulang, testis (buah pelir) membesar, tumbuh
bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap, awal perubahan suara,
ejakulasi (keluarnya air mani), bulu kemaluan menjadi keriting, pertumbuhan
tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya, tumbuh rambut-rambut
halus diwajaah (kumis, jenggot), tumbuh bulu ketiak, akhir perubahan suara,
rambut-rambut diwajah bertambah tebal dan gelap, dan tumbuh bulu dada.
Pada dasarnya perubahan fisik remaja disebabkan oleh
kelenjar pituitarydan kelenjar hypothalamus. Kedua
kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran tubuh dan
merangsang aktifitas serta pertumbuhan alat kelamin utama dan kedua pada remaja
(Sunarto & Agung Hartono, 2002: 94).
2. Transisi Kognitif
Dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari
lingkungan sosial.Hal ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya
dalam perkembangan kognitif remaja.
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003: 110) secara lebih
nyata pemikiran opersional formal bersifat lebih abstrak, idealistis dan
logis.Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak misalnya
dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak. Remaja juga lebih idealistis
dalam berpikir seperti memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang
lain dan dunia. Remaja berfikir secara logis yang mulai berpikir seperti
ilmuwan, menyusun berbagai rencana untuk memecahkan masalah dan secara
sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan.
3. Transisi Sosial
Perkembangan
sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan
selanjutnya pada masa remaja.Hubungan sosial anak pertama-tama masing sangat
terbatas dengan orang tuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan
berkembang semakin meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman
sejenis maupun lain jenis (dalam Rita Eka Izzaty dkk, (2008: 139).
C.
Fase Pertumbuhan Remaja
1. Masa pra-pubertas (12 - 13
tahun)
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari
kanak-kanak ke remaja.Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan
dengan anak laki-laki.Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja,
yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ
seksual serta organ-organ reproduksi remaja.Di samping itu, perkembangan
intelektualitas yang sangat pesat jga terjadi pada fase ini.Akibatnya,
remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik (karena merasa tahu
segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun
pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya
baik, serta menjadikannya sebagai "hero" atau pujaannya. Perilaku ini
akan diikuti dengan meniru segala yang dilakukan oleh pujaannya, seperti model
rambut, gaya bicara, sampai dengan kebiasaan hidup pujaan tersebut.
Selain itu, pada masa ini remaja juga cenderung lebih berani
mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan
akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Hal ini yang sering ditanggapi
oleh orang tua sebagai pembangkangan.Remaja tidak ingin diperlakukan sebagai
anak kecil lagi.Mereka lebih senang bergaul dengan kelompok yang dianggapnya
sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tradisi orang
tua yang dianggapnya kuno dan tidak/kurang berguna, maupun peraturan-peraturan
yang menurut mereka tidak beralasan, seperti tidak boleh mampir ke tempat lain
selepas sekolah, dan sebagainya. Mereka akan semakin kehilangan minat untuk
bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cenderung bergabung dengan
teman-teman pilihannya. Misalnya, mereka akan memilih main ke tempat teman
karibnya daripada bersama keluarga berkunjung ke rumah saudara.
Tapi,
pada saat yang sama, mereka juga butuh pertolongan dan bantuan yang selalu siap
sedia dari orang tuanya, jika mereka tidak mampu menjelmakan keinginannya. Pada
saat ini adalah saat yang kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan
psikisnya untuk mengatasi konflik yang terjadi saat itu, remaja akan mencarinya
dari orang lain. Orang tua harus ingat, bahwa masalah yang dihadapi remaja,
meskipun bagi orang tua itu merupakan masalah sepele, tetapi bagi remaja itu
adalah masalah yang sangat-sangat berat.
2. Masa pubertas (14 - 16 tahun)
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan
fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya,
sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak
lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan
hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat.Keinginan seksual juga mulai kuat
muncul pada masa ini.Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi
yang pertama, sedangkan pada remaja pris ditandai dengan datangnya mimpi basah
yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang
tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar
tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan
psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya
akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya
perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi,
penampilan, dan daya tarik seksual.Karena kebingungan mereka ditambah labilnya
emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami
perasaannya.Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun,
di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin
kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat
peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.
3. Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya
dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun
perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga
diri mereka.Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini
berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan
remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan
fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya.Namun kematangan
psikologis belum tercapai sepenuhnya.
4. Periode remaja Adolesen (19 - 21
tahun)
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan
yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan
mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu
idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa
mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya.Sikapnya terhadap kehidupan
mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya.
Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase
ini.
D.
Remaja dan Permasalahannya
Masalah remaja sebagai usia bermasalah. Setiap periode hidup
manusia punya masalahnya tersendiri, termasuk periode remaja.Remaja seringkali
sulit mengatasi masalah mereka. Ada dua alasan hal itu terjadi, yaitu : pertama;
ketika masih anak-anak, seluruh masalah mereka selalu diatasi oleh orang-orang
dewasa. Hal inilah yang membuat remaja tidak mempunyai pengalaman dalam
menghadapi masalah.Kedua; karena remaja merasa dirinya telah mandiri, maka
mereka mempunyai gengsi dan menolak bantuan dan orang dewasa.
Remaja pada umunya mengalami bahwa pencarian jati diri atau keutuhan diri itu suatu masalah utama karena adanya perubahan-perubahan sosial, fisiologi dan psikologis di dalam diri mereka maupun di tengah masyarakat tempat mereka hidup.Perubahan-perubahan ini dipergencar dalam masyarakat kita yang semakin kompleks dan berteknologi modern.
Remaja pada umunya mengalami bahwa pencarian jati diri atau keutuhan diri itu suatu masalah utama karena adanya perubahan-perubahan sosial, fisiologi dan psikologis di dalam diri mereka maupun di tengah masyarakat tempat mereka hidup.Perubahan-perubahan ini dipergencar dalam masyarakat kita yang semakin kompleks dan berteknologi modern.
Adapun
masalah yang dihadapi remaja masa kini antara lain :
1. Kebutuhan akan figur teladan
Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai-nilai luhur yang
berlangsung dan keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar
nasehat-nasehat bagus yang tinggal hanya kata-kata indah.
2. Sikap Apatis
Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu
dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap
apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di
masyarakatnya.
3. Kecemasan dan kurangnya harga diri
Kata stess
atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja.Banyak kaum muda yang
mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan
lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).
4. Ketidakmampuan untuk melibatkan diri
Kecenderungan
untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para
remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan
pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat.Persahabatan dinilai dengan untung
rugi atau malahan dengan uang.
5. Perasaan tidak berdaya
Perasaan
tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya
hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan
masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk berpikir tentang keselamatan
diri kita di tengah-tengah masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan
pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat
nilai baik atau ijazah.
6. Pemujaan akan pengalaman
Sebagian
besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan
seks pada mulanya berawal dan hanya mencoba-coba.Lingkungan pergaulan anak muda
dewasa ini memberikan pandangan yagn keliru tentang pengalaman.
Bentuk-bentuk
dan perbuatan yang anti sosial antara lain:
a. Anak-anak muda yang berasal dan
golongan orang kaya yang biasanya memakain pakaian yang mewah, hidup hura-hura
dengan pergi ke diskotik merupakan gaya hidup mewah yang tidak selaras dengan
kebiasaan adat timur.
b.
Di sekolah, misalnya dengan melanggar tata tertib sekolah
seperti bolos, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan tugas dan lain
sebagainya.
c.
Ngebut, yaitu mengendarai mobil atau motor ditengah-tengah
keramaian kota dengan kecepatan yang melampaui batas maksimum yang dilakukan
oleh para pemuda belasan tahun.
d. Membentuk kelompok (genk-genk)
remaja yang tingkah lakunya sangat menyimpang dengan norma yang berlaku di
masyarakat, seperti tawuran antar kelompok.
A.
ANAK
GADIS PADA MASA ADOLONSENCE
1. Pengertian
Masa Adolonsence
Adolesense berasal dari istilah
latin, yang berarti masa muda yang terjadi antara 17 – 30 tahun. Sehingga
disimpulkan bahwa proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 11–22 tahun.
Anak gadis pada masa adolesense
adalah anak gadis masa transisi/ peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa
dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan
psikologi.Secara kronologis yang tergolong remaja ini berkisar antara 11/12 –
21 tahun. Untuk menjadi orang dewasa, mengutip pendapat Erikson, maka remaja
akan melalui masa krisis di mana remaja berusaha untuk mencari identitas diri.
2. Ciri-ciri Perkembangan Adolesense
Bagi anak gadis, perkembangan fisik
yang berhubungan dengan aspek seksual yang terjadi selama masa puber memiliki
ciri-ciri yang amat khas. Walaupun masing-masing anak dapat berbeda dalam perkembangannya
tetapi umumnya ciri-ciri standart perkembangan tersebut adalah :
a. Perkembangan
mulai kira-kira pada umur 11 tahun.
b. Buah dada
mulai tumbuh dan pantatnya makin membulat.
c. Rambut di
kemaluan mulai tumbuh.
d. Uterus,
vagina, labia dan clitoris mulai membesar ukurannya.
e. Selanjutnya
bulu di kemaluan mulai terlihat jelas dan buah dada semakin membesar.
f. Perkembangan
secara fisik ini mencapai puncaknya kira-kira pada usia 12 tahun.
g. Pada puncak
perkembangan ini menstruasi mulai datang.
h. Setelah fase
ini mereka akan dapat melakukan pembuahan (konsepsi) kira-kira setahun setelah
menstruasi datang.
Ketika
pertumbuhan ini sedang terjadi, ada kalanya tubuh seorang anak gadis tumbuh
secara asimetris.Misalnya, kaki mereka tumbuh lebih dulu.Lalu tungkai dan
lengan.Selanjutnya baru bagian tubuh lainnya.Ada kalanya ketika pertumbuhan ini
sedang terjadi mereka tampak lucu dan ini kadang kala dapat membuatnya
minder.Misalnya ukuran kaki yang tiba-tiba dirasakan besar sekali.Untuk itu
orang tua sebaiknya membantu mereka dengan menjelaskan tentang pertumbuhannya
itu melalui informasi-informasi yang benar.
3. Perubahan-perubahan
Adolesense
Pada masa adolescence, biasanya akan terjadi perubahan pada diri seorang
gadis baik fisik maupun psikis, walaupun akibatnya sementara akan tetapi
mempengaruhi perubahan dalam pola prilaku, sikap dan kepribadian.
Perubahan-perubahan tersebut di antaranya:
a. Cinta Diri
Dua kata yang perlu di jelaskan dari kutipan di atas yaitu: cinta dan diri
sediri. Cinta bermakna perasaan
puas pada diri seseorang, sehingga suatu atau yang dicintai akan mendapat
perlakuan yang istimewa dari orang yang di cintainya, mendapat penjagaan,
diperlakukan secara istimewa, membayangkan keberadaannya, semua hal yang
dilakukan karena cinta adalah demi menjaga keberadaan dan rasa puas yang
dimiliki terhadap yang dicintai. Kalau yang dicintai berupa barang, maka barang
tersebut tidak akan pernah dirusakan, cacat atau di rampas orang.
Diri sendiriartinya bukan orang lain istilahnya
yaitu “AKU”, meliputi tubuh dan batin. Jadi mencintai diri sendiri adalah
mencintai tubuh dan batin, bagaimana seseorang mencintai di dirinya maka ia
akan merawat tubuhnya, menjaganya, dan tidak akan membahayakannya.
Cinta diri merupakan sumber pergeseran dan benturan sebanyak komponen yang
ada pada manusia, cinta diri menciptakan tuntutan hasrat dan kebutuhan serta
kebebasan yang meluas pada manusia.Ada dua kepentingan hidup yaitu kepentingan
pribadi dan kepentingan umum.Berkorban demi kepentingan umum menjadi tidak
berarti, karena naluri cinta dirinya tidak membiarkan kehilangan kesempurnaan
sedikitpun dari dirinya.Berdasarkan cinta diri setiap manusia selalu
mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.
Ada 2 jenis Cinta Diri:
1. Cinta Diri
Positif
a. Terdiri dari
kecintaanmu pada dirimu, jelas melebihi kecintaanmu pada orang lain.
b. Cinta pada
diri sendiri dan orang lain dapat saling berdampingan
c. Cintailah
orang di sekelilingmu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, menunjukan
bahwa integritas keunikan diri serta cinta dan pengertian terhadap manusia
lainya.
2. Cinta Diri
Negatif
Dimana seseorang hanya mencintai dirinya sendiri tanpa
mementingkan kepentingan orang lain dan mementingkan kepentingan dirinya tanpa
mempertimbangakan orang lain di sekelilingnya.
Mengamati cinta diri pada tataran fungsional dan
aplikatifnya, naluri ini menjadi sumber pergesekan dan benturan, sebanyak
komponen yang ada pada umat manusia.Cinta diri menciptakan tuntutan, hasrat,
kebutuhan, kebebasan yang seluas-luasnya pada image manusia. Cinta diri
mendorong setiap yang memiliki melibatkan apa saja di sekitarnya yang bisa
memenuhi kebutuhan dan memuaskan tututannya. Sehingga, menjadi mustahil
bertahan hidup dalam kesendirian dan keterasingan. Kodratnya menghukum dirinya
sebagai political animal, sehingga ia terpaksa mengadakan kontrak sosial dengan
selainnya, dan tidak segan-segan melibatkan sesamanya demi kepentingan cinta
diri sendiri. Dari cara yang paling sopan, sampai modus yang paling sadis,
layaknya Hanibalisme, Vandalisme, atau bentuk yang lebih licik dan terselubung
semisal Demokrasi, Liberal, Perdamaian, HAM, dll. Maka, disini seperti ada
perebutan kepentingan yang mau tidak mau mesti dijalani umat manusia,
dimanapun, kapanpun.
Perebutan itu bukan hanya
antar-komponen umat, tetapi antar-umat dan komponennya sendiri. Jelas disini,
ada adu dua kepentingan hidup yaitu: kepentingan pribadi dan kepentingan umum.
Berkorban demi kepentingan umum menjadi tidak berarti, karena naluri cinta
dirinya tidak membiarkan kehilangan kesempurnaan sedikitpun dari dirinya.
Berdasarkan cinta diri, setiap
manusia selalu mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.
Dilema sosial dan egosentrisme ini tidak akan bisa diselesaikan oleh atau
dinisbahkan kepada institusi sosial atau perangkat kekuasaan, karena keduanya
produk sekawanan manusia yang masing-masing juga cinta diri.
Sepertinya boleh dikatakan bahwa
segala apapun yang terjadi di dunia ini adalah berkah kekuatan dan kebebasan
egoisme, sebuah naluri yang terpatri dalam kodrat manusia.Sejarah peradabannya
tidak pernah memberikan laporan yang bisa menekan tensi anxiety, selain
manipulasi dan pembodohan fakta.
Ketika Demokrasi, Modernitas dan
Globalisasi dianggap peradaban manusia terunggul, umat manusia, secara sadar
atau terpaksa, tengah menyimak variabel pemalsuan riwayat hidup mutakhirnya.
2. Fantasi Seksual
Pada masa ini seseorang mulai merasakan cinta dan kasih sayang satu sama
lain, mempunyai perhatian yang lebih mengenai siapa dan bagaimana mereka (lawan
jenis) di mata orang lain, mereka mulai merasakan ketertarikan secara seksual
antara satu dengan yang lain, sehingga timbul yang di namakan rasa suka, ingin
memiliki dan saling memuji. Bagi remaja yang pola perkembanganya normal dalam
arti dia menyadari setiap tahap perkembangan, maka tidak adanya hambatan dalam
dirimya untuk melewati fase ini, akan tetapi apabila ada remaja yang memang
tidak melewati fase ini maka akan terjadi keterbelakangan daya tarik atau
ketertarikan dengan lawan jenis pada masanya.
Gelora cinta anak gadis yang biasanya membadai itu tidak
selalu ditujukan pada seorang obyek pribadi yang riil.Ada kalanya anak gadis
mengarahkan obyek cintanya pada suatu obyek fantasi yang hanya ada dalam
imaginasi (khayalan) sendiri.Ada kalanya gambaran khayalan obyek cinta itu
didorong oleh ambisi yang terlalu besar dengan tuntutan persyaratan yang berat
dan oleh dorongan ingin mendapatkan pengakuan terhadap kemampuannya.Sebagai
akibat dari tuntunan ini, fantasi tersebut tidak pernah bisa dikonsentrasikan
pada seorang pria saja.Sedang isi fantasi cintanya pada umumnya ditentukan oleh
kultural tempat anak gadis tadi berada.
Jika fantasi-fantasi cintanya itu tidak bersifat sosial atau
ideologis, akan tetapi bersifat murni egosentris, maka realisasi dari fantasi
tersebut biasanya akan menumbuhkan kekecewaan-kekecewaan pada dirinya. Sebab,
seorang yang egosentris akan memandang dunia luar dari pandangan dan selera
sendiri, menurut pengertian sendiri, juga dibatasi oleh perasaan dan fikirannya
yang masih sempit. Ia sangat terpengaruh oleh akal budinya yang masih “cupet”,
serta tidak mampu menyelami perasaan dan fikiran oranglain. Dia belum mampu
menempatkan diri ke dalam kehidupan batiniah oranglain atau
partnernya.Selanjutnya egosentrisme tadi ada umumnya sifatnya naif, dan sangat
terikat pada diri sendiri.Dengan sendirinya orang yang egosentris itu selalu
mengutamakan kepentingan sendiri, melihat dunia luar dengan kacamata batin
sendiri, sedang sifatnya kurang matang dan kurang mantap. Jika pola demikian
ini terus menerus akan dilanjutkan, maka anak gadis tersebut tentu akan
tertumbuk pada banyak kesulitan serta kekecewaan dikemudian harinya.
Pada anak-anak gadis adolesens, unsur-unsur erotik itu lebih
lama dihayatinya, jika dibandingkan dengan penghayatan anak laki-laki.Hal ini
terutama disebabkan oleh adanya perbedaan anatomis. Fantasi-fantasi erotik pada
anak laki-laki pada umumnya segera, dan disertai dengan proses-proses genital
(genetalia = organ kelamin). Sebaliknya pada anak-anak gadis, mereka tidak
begitu cepat mengerti bahwa alat kelaminnya itu juga merupakan alat pelaksana
dari hasrat cintanya.Pada umumnya anak-anak gadis masih dapat membedakan
antara-antara ketagangan psikis (oleh perasaan-perasaan psikis) dari ketegangan
fisis sebagai akibat dari ketegangan pada organ kelaminnya, jika mereka melakukan
masturbasi atau mengalami orgasme.
Marilah kita sejenak kembali pada kehidupan fantasi anak
gadis adolesens. Fantasi itu bisa dianggap sebagai bayangan khayali bagi hari
depan, yang ingin direalisasikan. Jadi, sifatnya positif.Tetapi ada kalanya
pula fantasi itu dipakai sebagai alat untuk melarikan diri dari dunia
kenyataan, dan untuk mengaingkari realitas. Maka terjadilah apa yang disebut
orang sebagai Pseudologi. Menurut Fenichel, pseudologi itu merupakan satu
metode khusus untuk memungkiri (verlochenen) realitas.
Pada masa adolesense ini setiap realitas (keaktifan real,
kegiatan nyata) yang bisa memenuhi atau memuaskan keinginan–keinginan seksual,
memang bisa merupakan bahaya bagi dirinya. Maka sebagai penggantinya ia
melakukan repressi (menekan kedalam, mengendalikan) yaitu menekan gejolak –
gejolak seksual dan ditransformasikan dalam bentuk fantasi atau pseudologi. Hal
ini merupakan satu cara untuk melarikan diri dari dunia kenyataan sekarang
ialah dengan cara memindahkan realisasi pemenuhan keinginan seksual pada masa
yang akan datang didalam fantasi–fantasinya. Ada sekelompok anak–anak gadis
pada usia adolesense yang oleh rasa ketakutan merealisasikan dorongan
seksualnya. Mereka berusaha mengatasi ketakutannya dengan melakukan “
intervensi seksual aktif “ yaitu berlaku sok berani dan sok tau, didorong oleh
rasa ingin tahu karena merasa dirinya sudah dewasa. Akan tetapi pada akhirnya
justru malah menekan dan menindih berat jiwa mereka.
3. Multiple Personality
Kepribadian ganda (tidak hanya 2 kepribadian, bisa lebih dari 2) atau
multiple personality. Secara mudahnya bisa di katankan 2 atau lebih jiwa
yang menghuni badan dan raga seseorang. Ini merupakan salah satu bentuk
kelainan jiwa, dalam pengertian umum kelainan jiwa tidak sama dengan sakit jiwa.
Sakit jiwa konotasinya seseorang yang kehilangan realitas hidupnya, tertawa
sendiri, menagis, berhalusinasi.Sedangkan kelainan jiwa lebih halus dari sakit
jiwa, kelainan jiwa masih dalam tahap normal, tidak mengganggu dan biasanya
tidak teridentifikasi bila tidak mengunakan alat tes psikologi. Contoh: rasa
takut berlebihan, takut gelap, takut keramaian, takut laba-laba (secara
berlebihan). Kelainan jiwa ini bisa bersifat keturunan atau juga pengaruh
lingkungan biasanya karena obsesi yang mendalam atau tekanan jiwa/batin yang
keras dan lama. Penyebab terjadinya gangguan kepribadian majemuk di akibatkan
oleh penyiksaan fisik yang di lakukan oleh ibu atau bapaknya sendiri.akan
terjadi pribadi dominan bisa menyadari pribadi-pribadi lainya namun pribadi
asli kadang tidak menyadarinya sama sekali.
4.
Psedoafektivitat
Menurut Dr. Helena deutsh bahwa relasi emosional,dari
identifikasi total,di sebut Psedoaktivitat, yang dapat menimbulkan
gejala-gejala neorologis dan patologis.ada juga gadis-gadis adolesense yang
berbakat intelektual tinggi yang tidak mampu mengendalikan macam-macam
identifikasi dan tidak mampu membatasi wilayah identifikasinya ia sangat mudah
terpengaruh oleh sugesti dari luar, sehingga ia sulit mendapatkan keseimbangan
batin.
Peristiwa ini memberikan efek yang destruktif merusak pada
diri sendiri dan lingkunganya. Contoh kongkritnya adalah :
a. Peristiwa kawin cerai berulang kali.
b. Prostitusi/ pelacuran.
c. Berganti-ganti lapangan kerja tanpa
sebab yang jelas.
d. Petualangan cinta (ganti-ganti
pacar).
Adakalnya identifikasi total ini mengakibatkan timbulnya
pribadi majemuk di mana munculnya pribadi sendiri yang tidak sama dengan
pribadi yang teridentifikasi, freud menanamkan gejala tersebut sebagai fenomena
hidup. Proses identifikasi ini bisa berlangsung terhadap beberapa orang
sehingga timbul perpecahan pribadi yang dikenal sebagai gejala majemuk pribadi.
3. Tipe-tipe
Gadis Adolesense
Tipe-tipe gadis adolescentia diantaranya
adalah sebagai berikut :
a.
Pelarian
Diri
Pada beberapa anak gadis yang lebih tua atau lebih dewasa,
usaha pelarian diri dari pemuasan gelora nafsu–nafsu seksualnya disubstitusikan
dalam bentuk: pemilihan suatu profesi yang hakekatnya kurang ditekuninya atau
mereka menggabungkan diri pada suatu kelompok ideologi politik atau pada satu partai
religi agama.
b.
Energi
Intelektual Tinggi
Seorang wanita atau gadis yang memiliki energi intelektual
tinggi yang telah meninggalkan sama sekali kehidupan perasaaan dan fantasi
seksual itu bisa mengakibatkan mengering atau menipisnya rasa kewanitaannya,
dan jelas menghambat perkembangan fungsi–fungsi kewanitaannya. Dikemudian hari
bisa menghambat fungsinya sebagai seorang ibu. Sekalipun ia cukup intelek dan
perbuatan–perbuatannya secara normatif bisa dinilaisebagai luhur, juga dia
sendiri bisa berkembang, namun pada hakekatnya tetap saja ia tidak dewasa.
c.
Energik
dan Ambisius
Anak gadis yang energik dan amibisius, yang sanggup
mendesakkan dorongan–dorongan seksualnya, dan susah payah bisa mencapai
cita–cita intelektualnya itu pada umumnya banyak mengalami stagnasi pada
kehidupan emosionalnya dan mereka dihinggapi kompleks–kompleksnya kejantanan
yang tidak mapan. Pola identifikasi lama yang terdapat pada anak–anak
gadis lebih pekat melekat dan berlangsung dalam waktu yang lama pula.
d.
Rasa
Malu Berlebihan
Setiap manusia haruslah memiliki
rasa malu, karena rasa malu merupakan salah satu control dalam kehidupan
seseorang, tetapi apabila rasa malu itu berlebihan dan tidak masuk akal maka
itu akan menjadi masalah karena rasa malu berlebihan akan menghambat kehidupan
sosial seseorang yang sekaligus bisa berdampak terhadap kemajuan dan kesuksesan
dalam hidup dan kehidupan seseorang.rasa malu juga merupakan kombinasi dari
kegugupan sosial dan pengkondisian social, rasa malu dan rendah diri memiliki
keterkaitan dan apabila di telusuri banyak orang yang merasa malu yang di
sebabkan karena dia merasa rendah diri, rasa malu juga dapat di gambarkan
semacam perasaan tidak nyaman, sementara orang yang menderita rendah diri
apabila orang tersebut kurang berharga dari pada dengan oranglain.
Di bawah ini beberapa cara menghilangkan rasa malu berlebihan:
Di bawah ini beberapa cara menghilangkan rasa malu berlebihan:
Kenalilah rasa malu itu, apa yang membuat kamu merasa malu,
apakah keadaan fisik atau hal-hal yang bersifat psikologis.
Berhentilah menyalakan orang lain untuk menutupi rasa
malu.sadarilah bahwa rasa malu itu bersumber dari dalam diri sendiri bukan dari
luar, namun jangan pernah menyalakan diri sendiri.
Ketika sedang mengalami rasa malu,
amatilah reaksi tubuh kamu, apakah kamu merasa tidak nyaman, gelisah, serba
salah, tangan gemetar atau reaksi fisik lainya. Telusurilah apa yang menyebabkan
perasaan negatif itu muncul.
1.
Kenalilah
kelemahan kamu, apa yang membuat kamu merasa malu karena semua orang memiliki
kelemahan, tidak ada orang yang sempurna namun sebisa mungkin kita mencoba
memperbaiki kelemahan tersebut.
2.
Kenal
dan kembangkan terus kelebihan dan keistimewaan kamu karena seseorang selain
memiliki kelemahan pasti memiliki kelebihan dan kelebihan itu merupakan modal
untuk percaya diri.
3.
Apabila
kamu merasa perasaan malu itu benar-benar di luar control maka berkonsultasilah
dengan seorang yang berpengalaman dan kamu percayai.
4.
Langkah
terakhir adalah jumpai psikolog untuk meminta solusi permasalahan.
5.
Lawan
rasa malu dengan berusaha bersikap lebih santai, karana rasa malu berlebihan
akan membuat kita kelihatan kaku dan konyol.
6.
Tampilkan
sisi terbaik, tonjolkan kelebihan yang di miliki.
7.
Jangan
takut akan penolakan dan cacian, jika di awal mental kita sudah jatuh maka
dapat di pastikan penampilan tidak akan maksimal.
8.
Pelajari
situasi, jangan sampai rasa malu justru membuat kita terjebak dalam situasi,
harus belajar untuk tetap tenang dan pelajari apa yang sedang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/20009824/makalah_remaja_dan_permasalahan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar