Wavy Tail

Senin, 13 Juni 2016

MASALAH ANAK GADIS PADA MASA PUBERTAS DAN ANAK GADIS PADA MASA ADOLENSENCE








A.    Definisi Remaja
            Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua.Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.  Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah: masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
            Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir.  Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12 – 15 tahun, masa remaja pertengahan 15 – 18 tahun, dan masa remaja akhir 18 – 21 tahun (Deswita, 2006:  192)
            Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.

B.     Karakteristik Remaja
            Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja yang mencakup perubahan transisi biologis, transisi kognitif, dan transisi sosial akan dipaparkan di bawah ini:

1.      Transisi Biologis
Menurut Santrock (2003: 91) perubahan fisik yang terjadi pada remaja terlihat nampak pada saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial.Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi).Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarlito Wirawan Sarwono, 2006: 52).
Selanjutnya, Menurut Muss (dalam Sunarto & Agung Hartono, 2002: 79) menguraikan bahwa perubahan fisik yang terjadi pada anak perempuan yaitu; perertumbuhan tulang-tulang, badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang, tumbuh payudara.Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di kemaluan, mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimum setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi kriting, menstruasi atau haid, tumbuh bulu-bulu ketiak.
Sedangkan pada anak laki-laki peubahan yang terjadi  antara lain; pertumbuhan tulang-tulang, testis (buah pelir) membesar, tumbuh bulu kemaluan yang halus, lurus, dan berwarna gelap, awal perubahan suara, ejakulasi (keluarnya air mani), bulu kemaluan menjadi keriting, pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimum setiap tahunnya, tumbuh rambut-rambut halus diwajaah (kumis, jenggot), tumbuh bulu ketiak, akhir perubahan suara, rambut-rambut diwajah bertambah tebal dan gelap, dan tumbuh bulu dada.
Pada dasarnya perubahan fisik remaja disebabkan oleh kelenjar pituitarydan kelenjar hypothalamus. Kedua kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran tubuh dan merangsang aktifitas serta pertumbuhan alat kelamin utama dan kedua pada remaja (Sunarto & Agung Hartono, 2002: 94).

2.      Transisi Kognitif
Dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari lingkungan sosial.Hal ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif remaja.
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2003: 110) secara lebih nyata pemikiran opersional formal bersifat lebih abstrak, idealistis dan logis.Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak misalnya dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak. Remaja juga lebih idealistis dalam berpikir seperti memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan dunia. Remaja berfikir secara logis yang mulai berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan.

3.      Transisi Sosial
Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja.Hubungan sosial anak pertama-tama masing sangat terbatas dengan orang tuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sejenis maupun lain jenis (dalam Rita Eka Izzaty dkk, (2008: 139).

C.    Fase Pertumbuhan Remaja

1.       Masa pra-pubertas (12 - 13 tahun)
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja.Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki.Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja.Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat jga terjadi pada fase ini.Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik (karena merasa tahu segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, serta menjadikannya sebagai "hero" atau pujaannya. Perilaku ini akan diikuti dengan meniru segala yang dilakukan oleh pujaannya, seperti model rambut, gaya bicara, sampai dengan kebiasaan hidup pujaan tersebut.
Selain itu, pada masa ini remaja juga cenderung lebih berani mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Hal ini yang sering ditanggapi oleh orang tua sebagai pembangkangan.Remaja tidak ingin diperlakukan sebagai anak kecil lagi.Mereka lebih senang bergaul dengan kelompok yang dianggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tradisi orang tua yang dianggapnya kuno dan tidak/kurang berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan, seperti tidak boleh mampir ke tempat lain selepas sekolah, dan sebagainya. Mereka akan semakin kehilangan minat untuk bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cenderung bergabung dengan teman-teman pilihannya. Misalnya, mereka akan memilih main ke tempat teman karibnya daripada bersama keluarga berkunjung ke rumah saudara.
            Tapi, pada saat yang sama, mereka juga butuh pertolongan dan bantuan yang selalu siap sedia dari orang tuanya, jika mereka tidak mampu menjelmakan keinginannya. Pada saat ini adalah saat yang kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikisnya untuk mengatasi konflik yang terjadi saat itu, remaja akan mencarinya dari orang lain. Orang tua harus ingat, bahwa masalah yang dihadapi remaja, meskipun bagi orang tua itu merupakan masalah sepele, tetapi bagi remaja itu adalah masalah yang sangat-sangat berat.
2.      Masa pubertas (14 - 16 tahun)
Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat.Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini.Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pris ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.
Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual.Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya.Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.
3.      Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)
Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka.Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya.Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.
4.       Periode remaja Adolesen (19 - 21 tahun)
Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya.Sikapnya terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.

D.    Remaja dan Permasalahannya

Masalah remaja sebagai usia bermasalah. Setiap periode hidup manusia punya masalahnya tersendiri, termasuk periode remaja.Remaja seringkali sulit mengatasi masalah mereka. Ada dua alasan hal itu terjadi, yaitu : pertama; ketika masih anak-anak, seluruh masalah mereka selalu diatasi oleh orang-orang dewasa. Hal inilah yang membuat remaja tidak mempunyai pengalaman dalam menghadapi masalah.Kedua; karena remaja merasa dirinya telah mandiri, maka mereka mempunyai gengsi dan menolak bantuan dan orang dewasa.
            Remaja pada umunya mengalami bahwa pencarian jati diri atau keutuhan diri itu suatu masalah utama karena adanya perubahan-perubahan sosial, fisiologi dan psikologis di dalam diri mereka maupun di tengah masyarakat tempat mereka hidup.Perubahan-perubahan ini dipergencar dalam masyarakat kita yang semakin kompleks dan berteknologi modern.
Adapun masalah yang dihadapi remaja masa kini antara lain :

1.       Kebutuhan akan figur teladan
Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai-nilai luhur yang berlangsung dan keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasehat-nasehat bagus yang tinggal hanya kata-kata indah.


2.      Sikap Apatis  
Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di masyarakatnya.

3.      Kecemasan dan kurangnya harga diri
Kata stess atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja.Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).

4.      Ketidakmampuan untuk melibatkan diri
            Kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat.Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang.

5.      Perasaan tidak berdaya
            Perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah-tengah masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijazah.

6.      Pemujaan akan pengalaman
            Sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dan hanya mencoba-coba.Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yagn keliru tentang pengalaman.
Bentuk-bentuk dan perbuatan yang anti sosial antara lain:
a.       Anak-anak muda yang berasal dan golongan orang kaya yang biasanya memakain pakaian yang mewah, hidup hura-hura dengan pergi ke diskotik merupakan gaya hidup mewah yang tidak selaras dengan kebiasaan adat timur.
b.      Di sekolah, misalnya dengan melanggar tata tertib sekolah seperti bolos, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan tugas dan lain sebagainya.
c.       Ngebut, yaitu mengendarai mobil atau motor ditengah-tengah keramaian kota dengan kecepatan yang melampaui batas maksimum yang dilakukan oleh para pemuda belasan tahun.
d.      Membentuk kelompok (genk-genk) remaja yang tingkah lakunya sangat menyimpang dengan norma yang berlaku di masyarakat, seperti tawuran antar kelompok.




A.    ANAK GADIS PADA MASA ADOLONSENCE

1.      Pengertian Masa Adolonsence
Adolesense berasal dari istilah latin, yang berarti masa muda yang terjadi antara 17 – 30 tahun. Sehingga disimpulkan bahwa proses perkembangan psikis remaja dimulai antara 11–22 tahun.
Anak gadis pada masa adolesense adalah anak gadis masa transisi/ peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikologi.Secara kronologis yang tergolong remaja ini berkisar antara 11/12 – 21 tahun. Untuk menjadi orang dewasa, mengutip pendapat Erikson, maka remaja akan melalui masa krisis di mana remaja berusaha untuk mencari identitas diri.
2.      Ciri-ciri Perkembangan Adolesense

Bagi anak gadis, perkembangan fisik yang berhubungan dengan aspek seksual yang terjadi selama masa puber memiliki ciri-ciri yang amat khas. Walaupun masing-masing anak dapat berbeda dalam perkembangannya tetapi umumnya ciri-ciri standart perkembangan tersebut adalah :
a.       Perkembangan mulai kira-kira pada umur 11 tahun.
b.      Buah dada mulai tumbuh dan pantatnya makin membulat.
c.       Rambut di kemaluan mulai tumbuh.
d.      Uterus, vagina, labia dan clitoris mulai membesar ukurannya.
e.       Selanjutnya bulu di kemaluan mulai terlihat jelas dan buah dada semakin membesar.
f.       Perkembangan secara fisik ini mencapai puncaknya kira-kira pada usia 12 tahun.
g.      Pada puncak perkembangan ini menstruasi mulai datang.
h.      Setelah fase ini mereka akan dapat melakukan pembuahan (konsepsi) kira-kira setahun setelah menstruasi datang.
Ketika pertumbuhan ini sedang terjadi, ada kalanya tubuh seorang anak gadis tumbuh secara asimetris.Misalnya, kaki mereka tumbuh lebih dulu.Lalu tungkai dan lengan.Selanjutnya baru bagian tubuh lainnya.Ada kalanya ketika pertumbuhan ini sedang terjadi mereka tampak lucu dan ini kadang kala dapat membuatnya minder.Misalnya ukuran kaki yang tiba-tiba dirasakan besar sekali.Untuk itu orang tua sebaiknya membantu mereka dengan menjelaskan tentang pertumbuhannya itu melalui informasi-informasi yang benar.

3.      Perubahan-perubahan Adolesense

Pada masa adolescence, biasanya akan terjadi perubahan pada diri seorang gadis baik fisik maupun psikis, walaupun akibatnya sementara akan tetapi mempengaruhi perubahan dalam pola prilaku, sikap dan kepribadian.
Perubahan-perubahan tersebut di antaranya:
a.       Cinta Diri
Dua kata yang perlu di jelaskan dari kutipan di atas yaitu: cinta dan diri sediri. Cinta bermakna perasaan puas pada diri seseorang, sehingga suatu atau yang dicintai akan mendapat perlakuan yang istimewa dari orang yang di cintainya, mendapat penjagaan, diperlakukan secara istimewa, membayangkan keberadaannya, semua hal yang dilakukan karena cinta adalah demi menjaga keberadaan dan rasa puas yang dimiliki terhadap yang dicintai. Kalau yang dicintai berupa barang, maka barang tersebut tidak akan pernah dirusakan, cacat atau di rampas orang.
Diri sendiriartinya bukan orang lain istilahnya yaitu “AKU”, meliputi tubuh dan batin. Jadi mencintai diri sendiri adalah mencintai tubuh dan batin, bagaimana seseorang mencintai di dirinya maka ia akan merawat tubuhnya, menjaganya, dan tidak akan membahayakannya.
Cinta diri merupakan sumber pergeseran dan benturan sebanyak komponen yang ada pada manusia, cinta diri menciptakan tuntutan hasrat dan kebutuhan serta kebebasan yang meluas pada manusia.Ada dua kepentingan hidup yaitu kepentingan pribadi dan kepentingan umum.Berkorban demi kepentingan umum menjadi tidak berarti, karena naluri cinta dirinya tidak membiarkan kehilangan kesempurnaan sedikitpun dari dirinya.Berdasarkan cinta diri setiap manusia selalu mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

Ada 2 jenis Cinta Diri:
1.      Cinta Diri Positif
a.       Terdiri dari kecintaanmu pada dirimu, jelas melebihi kecintaanmu pada orang lain.
b.      Cinta pada diri sendiri dan orang lain dapat saling berdampingan
c.       Cintailah orang di sekelilingmu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, menunjukan bahwa integritas keunikan diri serta cinta dan pengertian terhadap manusia lainya.
2.      Cinta Diri Negatif
Dimana seseorang hanya mencintai dirinya sendiri tanpa mementingkan kepentingan orang lain dan mementingkan kepentingan dirinya tanpa mempertimbangakan orang lain di sekelilingnya.
Mengamati cinta diri pada tataran fungsional dan aplikatifnya, naluri ini menjadi sumber pergesekan dan benturan, sebanyak komponen yang ada pada umat manusia.Cinta diri menciptakan tuntutan, hasrat, kebutuhan, kebebasan yang seluas-luasnya pada image manusia. Cinta diri mendorong setiap yang memiliki melibatkan apa saja di sekitarnya yang bisa memenuhi kebutuhan dan memuaskan tututannya. Sehingga, menjadi mustahil bertahan hidup dalam kesendirian dan keterasingan. Kodratnya menghukum dirinya sebagai political animal, sehingga ia terpaksa mengadakan kontrak sosial dengan selainnya, dan tidak segan-segan melibatkan sesamanya demi kepentingan cinta diri sendiri. Dari cara yang paling sopan, sampai modus yang paling sadis, layaknya Hanibalisme, Vandalisme, atau bentuk yang lebih licik dan terselubung semisal Demokrasi, Liberal, Perdamaian, HAM, dll. Maka, disini seperti ada perebutan kepentingan yang mau tidak mau mesti dijalani umat manusia, dimanapun, kapanpun.
Perebutan itu bukan hanya antar-komponen umat, tetapi antar-umat dan komponennya sendiri. Jelas disini, ada adu dua kepentingan hidup yaitu: kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Berkorban demi kepentingan umum menjadi tidak berarti, karena naluri cinta dirinya tidak membiarkan kehilangan kesempurnaan sedikitpun dari dirinya.
Berdasarkan cinta diri, setiap manusia selalu mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum. Dilema sosial dan egosentrisme ini tidak akan bisa diselesaikan oleh atau dinisbahkan kepada institusi sosial atau perangkat kekuasaan, karena keduanya produk sekawanan manusia yang masing-masing juga cinta diri.
Sepertinya boleh dikatakan bahwa segala apapun yang terjadi di dunia ini adalah berkah kekuatan dan kebebasan egoisme, sebuah naluri yang terpatri dalam kodrat manusia.Sejarah peradabannya tidak pernah memberikan laporan yang bisa menekan tensi anxiety, selain manipulasi dan pembodohan fakta.
Ketika Demokrasi, Modernitas dan Globalisasi dianggap peradaban manusia terunggul, umat manusia, secara sadar atau terpaksa, tengah menyimak variabel pemalsuan riwayat hidup mutakhirnya.

2.      Fantasi Seksual
Pada masa ini seseorang mulai merasakan cinta dan kasih sayang satu sama lain, mempunyai perhatian yang lebih mengenai siapa dan bagaimana mereka (lawan jenis) di mata orang lain, mereka mulai merasakan ketertarikan secara seksual antara satu dengan yang lain, sehingga timbul yang di namakan rasa suka, ingin memiliki dan saling memuji. Bagi remaja yang pola perkembanganya normal dalam arti dia menyadari setiap tahap perkembangan, maka tidak adanya hambatan dalam dirimya untuk melewati fase ini, akan tetapi apabila ada remaja yang memang tidak melewati fase ini maka akan terjadi keterbelakangan daya tarik atau ketertarikan dengan lawan jenis pada masanya.
Gelora cinta anak gadis yang biasanya membadai itu tidak selalu ditujukan pada seorang obyek pribadi yang riil.Ada kalanya anak gadis mengarahkan obyek cintanya pada suatu obyek fantasi yang hanya ada dalam imaginasi (khayalan) sendiri.Ada kalanya gambaran khayalan obyek cinta itu didorong oleh ambisi yang terlalu besar dengan tuntutan persyaratan yang berat dan oleh dorongan ingin mendapatkan pengakuan terhadap kemampuannya.Sebagai akibat dari tuntunan ini, fantasi tersebut tidak pernah bisa dikonsentrasikan pada seorang pria saja.Sedang isi fantasi cintanya pada umumnya ditentukan oleh kultural tempat anak gadis tadi berada.
Jika fantasi-fantasi cintanya itu tidak bersifat sosial atau ideologis, akan tetapi bersifat murni egosentris, maka realisasi dari fantasi tersebut biasanya akan menumbuhkan kekecewaan-kekecewaan pada dirinya. Sebab, seorang yang egosentris akan memandang dunia luar dari pandangan dan selera sendiri, menurut pengertian sendiri, juga dibatasi oleh perasaan dan fikirannya yang masih sempit. Ia sangat terpengaruh oleh akal budinya yang masih “cupet”, serta tidak mampu menyelami perasaan dan fikiran oranglain. Dia belum mampu menempatkan diri ke dalam kehidupan batiniah oranglain atau partnernya.Selanjutnya egosentrisme tadi ada umumnya sifatnya naif, dan sangat terikat pada diri sendiri.Dengan sendirinya orang yang egosentris itu selalu mengutamakan kepentingan sendiri, melihat dunia luar dengan kacamata batin sendiri, sedang sifatnya kurang matang dan kurang mantap. Jika pola demikian ini terus menerus akan dilanjutkan, maka anak gadis tersebut tentu akan tertumbuk pada banyak kesulitan serta kekecewaan dikemudian harinya.


Pada anak-anak gadis adolesens, unsur-unsur erotik itu lebih lama dihayatinya, jika dibandingkan dengan penghayatan anak laki-laki.Hal ini terutama disebabkan oleh adanya perbedaan anatomis. Fantasi-fantasi erotik pada anak laki-laki pada umumnya segera, dan disertai dengan proses-proses genital (genetalia = organ kelamin). Sebaliknya pada anak-anak gadis, mereka tidak begitu cepat mengerti bahwa alat kelaminnya itu juga merupakan alat pelaksana dari hasrat cintanya.Pada umumnya anak-anak gadis masih dapat membedakan antara-antara ketagangan psikis (oleh perasaan-perasaan psikis) dari ketegangan fisis sebagai akibat dari ketegangan pada organ kelaminnya, jika mereka melakukan masturbasi atau mengalami orgasme.
Marilah kita sejenak kembali pada kehidupan fantasi anak gadis adolesens. Fantasi itu bisa dianggap sebagai bayangan khayali bagi hari depan, yang ingin direalisasikan. Jadi, sifatnya positif.Tetapi ada kalanya pula fantasi itu dipakai sebagai alat untuk melarikan diri dari dunia kenyataan, dan untuk mengaingkari realitas. Maka terjadilah apa yang disebut orang sebagai Pseudologi. Menurut Fenichel, pseudologi itu merupakan satu metode khusus untuk memungkiri (verlochenen) realitas.
Pada masa adolesense ini setiap realitas (keaktifan real, kegiatan nyata) yang bisa memenuhi atau memuaskan keinginan–keinginan seksual, memang bisa merupakan bahaya bagi dirinya. Maka sebagai penggantinya ia melakukan repressi (menekan kedalam, mengendalikan) yaitu menekan gejolak – gejolak seksual dan ditransformasikan dalam bentuk fantasi atau pseudologi. Hal ini merupakan satu cara untuk melarikan diri dari dunia kenyataan sekarang ialah dengan cara memindahkan realisasi pemenuhan keinginan seksual pada masa yang akan datang didalam fantasi–fantasinya. Ada sekelompok anak–anak gadis pada usia adolesense yang oleh rasa ketakutan merealisasikan dorongan seksualnya. Mereka berusaha mengatasi ketakutannya dengan melakukan “ intervensi seksual aktif “ yaitu berlaku sok berani dan sok tau, didorong oleh rasa ingin tahu karena merasa dirinya sudah dewasa. Akan tetapi pada akhirnya justru malah menekan dan menindih berat jiwa mereka.

3.      Multiple Personality
Kepribadian ganda (tidak hanya 2 kepribadian, bisa lebih dari 2) atau multiple personality. Secara mudahnya bisa di katankan 2 atau lebih jiwa yang  menghuni badan dan raga seseorang. Ini merupakan salah satu bentuk kelainan jiwa, dalam pengertian umum kelainan jiwa tidak sama dengan sakit jiwa.
Sakit jiwa konotasinya seseorang yang kehilangan realitas hidupnya, tertawa sendiri, menagis, berhalusinasi.Sedangkan kelainan jiwa lebih halus dari sakit jiwa, kelainan jiwa masih dalam tahap normal, tidak mengganggu dan biasanya tidak teridentifikasi bila tidak mengunakan alat tes psikologi. Contoh: rasa takut berlebihan, takut gelap, takut keramaian, takut laba-laba (secara berlebihan). Kelainan jiwa ini bisa bersifat keturunan atau juga pengaruh lingkungan biasanya karena obsesi yang mendalam atau tekanan jiwa/batin yang keras dan lama. Penyebab terjadinya gangguan kepribadian majemuk di akibatkan oleh penyiksaan fisik yang di lakukan oleh ibu atau bapaknya sendiri.akan terjadi pribadi dominan bisa menyadari pribadi-pribadi lainya namun pribadi asli kadang tidak menyadarinya sama sekali.

4.      Psedoafektivitat

Menurut Dr. Helena deutsh bahwa relasi emosional,dari identifikasi total,di sebut Psedoaktivitat, yang dapat menimbulkan gejala-gejala neorologis dan patologis.ada juga gadis-gadis adolesense yang berbakat intelektual tinggi yang tidak mampu mengendalikan macam-macam identifikasi dan tidak mampu membatasi wilayah identifikasinya ia sangat mudah terpengaruh oleh sugesti dari luar, sehingga ia sulit mendapatkan keseimbangan batin.
Peristiwa ini memberikan efek yang destruktif merusak pada diri sendiri dan lingkunganya. Contoh kongkritnya adalah :
a.       Peristiwa kawin cerai berulang kali.
b.      Prostitusi/ pelacuran.
c.       Berganti-ganti lapangan kerja tanpa sebab yang jelas.
d.      Petualangan cinta (ganti-ganti pacar).
Adakalnya identifikasi total ini mengakibatkan timbulnya pribadi majemuk di mana munculnya pribadi sendiri yang tidak sama dengan pribadi yang teridentifikasi, freud menanamkan gejala tersebut sebagai fenomena hidup. Proses identifikasi ini bisa berlangsung terhadap beberapa orang sehingga timbul perpecahan pribadi yang dikenal sebagai gejala majemuk pribadi.

3.      Tipe-tipe Gadis Adolesense
                 Tipe-tipe gadis adolescentia diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Pelarian Diri   
Pada beberapa anak gadis yang lebih tua atau lebih dewasa, usaha pelarian diri dari pemuasan gelora nafsu–nafsu seksualnya disubstitusikan dalam bentuk: pemilihan suatu profesi yang hakekatnya kurang ditekuninya atau mereka menggabungkan diri pada suatu kelompok ideologi politik atau pada satu partai religi agama.
b.      Energi Intelektual Tinggi
Seorang wanita atau gadis yang memiliki energi intelektual tinggi yang telah meninggalkan sama sekali kehidupan perasaaan dan fantasi seksual itu bisa mengakibatkan mengering atau menipisnya rasa kewanitaannya, dan jelas menghambat perkembangan fungsi–fungsi kewanitaannya. Dikemudian hari bisa menghambat fungsinya sebagai seorang ibu. Sekalipun ia cukup intelek dan perbuatan–perbuatannya secara normatif bisa dinilaisebagai luhur, juga dia sendiri bisa berkembang, namun pada hakekatnya tetap saja ia tidak dewasa.
c.       Energik dan Ambisius
Anak gadis yang energik dan amibisius, yang sanggup mendesakkan dorongan–dorongan seksualnya, dan susah payah bisa mencapai cita–cita intelektualnya itu pada umumnya banyak mengalami stagnasi pada kehidupan emosionalnya dan mereka dihinggapi kompleks–kompleksnya kejantanan yang tidak mapan. Pola identifikasi  lama yang terdapat pada anak–anak gadis lebih pekat melekat dan berlangsung dalam waktu yang lama pula.

d.      Rasa Malu Berlebihan
Setiap manusia haruslah memiliki rasa malu, karena rasa malu merupakan salah satu control dalam kehidupan seseorang, tetapi apabila rasa malu itu berlebihan dan tidak masuk akal maka itu akan menjadi masalah karena rasa malu berlebihan akan menghambat kehidupan sosial seseorang yang sekaligus bisa berdampak terhadap kemajuan dan kesuksesan dalam hidup dan kehidupan seseorang.rasa malu juga merupakan kombinasi dari kegugupan sosial dan pengkondisian social, rasa malu dan rendah diri memiliki keterkaitan dan apabila di telusuri banyak orang yang merasa malu yang di sebabkan karena dia merasa rendah diri, rasa malu juga dapat di gambarkan semacam perasaan tidak nyaman, sementara orang yang menderita rendah diri apabila orang tersebut kurang berharga dari pada dengan oranglain.
            Di bawah ini beberapa cara menghilangkan rasa malu berlebihan:
Kenalilah rasa malu itu, apa yang membuat kamu merasa malu, apakah keadaan fisik atau hal-hal yang bersifat psikologis.
Berhentilah menyalakan orang lain untuk menutupi rasa malu.sadarilah bahwa rasa malu itu bersumber dari dalam diri sendiri bukan dari luar, namun jangan pernah menyalakan diri sendiri.
Ketika sedang mengalami rasa malu, amatilah reaksi tubuh kamu, apakah kamu merasa tidak nyaman, gelisah, serba salah, tangan gemetar atau reaksi fisik lainya. Telusurilah apa yang menyebabkan perasaan negatif itu muncul.
1.      Kenalilah kelemahan kamu, apa yang membuat kamu merasa malu karena semua orang memiliki kelemahan, tidak ada orang yang sempurna namun sebisa mungkin kita mencoba memperbaiki kelemahan tersebut.
2.      Kenal dan kembangkan terus kelebihan dan keistimewaan kamu karena seseorang selain memiliki kelemahan pasti memiliki kelebihan dan kelebihan itu merupakan modal untuk percaya diri.
3.      Apabila kamu merasa perasaan malu itu benar-benar di luar control maka berkonsultasilah dengan seorang yang berpengalaman dan kamu percayai.
4.      Langkah terakhir adalah jumpai psikolog untuk meminta solusi permasalahan.
5.      Lawan rasa malu dengan berusaha bersikap lebih santai, karana rasa malu berlebihan akan membuat kita kelihatan kaku dan konyol.
6.      Tampilkan sisi terbaik, tonjolkan kelebihan yang di miliki.
7.      Jangan takut akan penolakan dan cacian, jika di awal mental kita sudah jatuh maka dapat di pastikan penampilan tidak akan maksimal.
8.      Pelajari situasi, jangan sampai rasa malu justru membuat kita terjebak dalam situasi, harus belajar untuk tetap tenang dan pelajari apa yang sedang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.academia.edu/20009824/makalah_remaja_dan_permasalahan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar